Pada umumnya, teori digunakan sebagai landasan dalam memulai penelitian. Dengan demikian, teori pariwisata menurut para ahli diperlukan untuk keperluan penelitian di bidang pariwisata. Tentunya ada banyak teori pariwisata yang bisa digunakan.

Bagi peneliti memang seharusnya tidak hanya menggunakan satu teori supaya penelitian yang dilakukan akan memberikan hasil terbaik. Bagi yang sedang melakukan maupun yang baru ingin memulai penelitian pariwisata bisa menggunakan beberapa teori berikut ini:

1. Teori Pariwisata Kraft dan Hunziker

Kraft dan Hunziker berpendapat bahwa pariwisata merupakan suatu peristiwa yang hadir ketika ada sejumlah orang melakukan perjalanan, tetapi tidak bertujuan untuk menetap di tempat tujuannya. Menurut kedua ahli ini, perjalanan yang dilakukan orang-orang tersebut cukup jauh dari tempat tinggal dan bertujuan untuk mengisi waktu luang.

Selain itu, teori yang diungkapkan oleh kedua ahli ini juga menyebutkan bahwa aktivitas yang dilakukan oleh orang-orang yang berwisata sama sekali tidak bertujuan untuk memperoleh penghasilan dan mencari nafkah. Orang-orang itu hanya ingin memuaskan keinginannya dan rasa penasaran terhadap suatu tempat yang ingin dikunjungi.

2. Teori Pariwisata Sugiama

Teori pariwisata menurut para ahli memang tak jarang memiliki perbedaan sudut pandang. Misalnya perspektif yang diungkapkan oleh Sugiama berbeda dengan teori Kraft dan Hunziker. Sugiama berpandangan bahwa pariwisata tidak hanya dapat diartikan sebagai aktivitas perjalanan, tetapi juga serangkaian aktivitas lainnya yang melibatkan interaksi sejumlah pelaku pariwisata. Sugiama lebih jelas mengungkapkan bahwa perjalanan yang dilakukan oleh wisatawan bertujuan untuk kepentingan bisnis, istirahat, dan memenuhi kebutuhan tersier yaitu rekreasi.

3. Teori Pariwisata Freuler

Freuler mengenalkan definisi pariwisata di zaman modern. Menurutnya, pariwisata dapat diartikan sebagai suatu tren di zaman modern yang menjadi kebutuhan banyak orang akan kesehatan mental. Teori ini juga sejalan dengan argumen bahwa setiap orang harus menjaga kesehatan mental di mana salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah berlibur. Tak hanya itu, Freuler juga mengungkapkan bahwa kegiatan berwisata dapat menimbulkan kecintaan terhadap alam bagi setiap orang yang berwisata.

4. Teori Pariwisata Smith

Jika pada teori yang disebutkan tiga ahli di atas menyoroti tentang aktivitas wisata, kali ini Smith mengungkapkan teori dengan sudut pandang yang berbeda. Smith hadir dengan teori yang lebih menyoroti individu sebagai pelaku pariwisata. Menurutnya, orang yang sedang berwisata atau saat ini lebih dikenal dengan sebutan wisatawan melakukan kegiatan wisata untuk berlibur tanpa memperdulikan pekerjaannya.

Para wisatawan berkunjung ke suatu tempat untuk berwisata secara sukarela tanpa adanya paksaan, perjanjian dengan pihak lain, atau memiliki tujuan untuk mendapatkan materi berupa uang. Oleh karena itu, Smith tidak menganggap orang-orang yang datang ke tempat wisata dengan tujuan untuk promosi dan beriklan sebagai wisatawan. Menurut Smith, orang-orang seperti itu sebetulnya sedang bekerja bukan berwisata.

5. Teori Pariwisata Kodhyat

Menurut Kodhyat, pariwisata dapat diartikan sebagai suatu perjalanan yang dilakukan seseorang untuk mencapai kebahagiaan. Namun, perjalanan ini bersifat sementara dan hanya dilakukan dalam periode waktu tertentu.

Ketika perjalanan tersebut sudah mengantarkan individu ke tempat tujuannya, maka individu tidak akan mengulanginya lagi kecuali ketika mendapatkan waktu luang di masa depan. Individu yang melakukan perjalanan tersebut meninggalkan pekerjaan atau rutinitas hariannya sementara waktu hingga perjalanan kembali mengantarkan individu ke tempat tinggalnya.

Itulah 5 teori pariwisata menurut para ahli yang bisa dipakai sebagai dasar dalam melakukan penelitian. Peneliti bisa menggabungkan beberapa teori dalam satu penelitian. Sebab, riset yang baik dibangun berdasarkan berbagai perspektif yang berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *