Menjadi pebisnis sukses mungkin merupakan harapan sebagian besar pelaku usaha. Upaya membentangkan karir pada bidang ini tentu tidak lepas dari pembahasan UKM, yang mana kerap kali disamakan dengan UMKM. Sehingga pemahaman dasar mengenai perbedaan UKM dan UMKM perlu ditekankan agar dapat mengerti peran keduanya dalam bidang ekonomi, seperti penjelasan berikut:

1. Besar Anggaran Untuk Modal

Besar pembiayaan modal pada awal pembentukan usaha sangatlah berperan besar. Sebab, dana inilah yang akan menjadi pondasi berlangsungnya bisnis yang akan dipersiapkan. Termasuk mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan untuk menggerakkan usaha. Besar kecilnya modal akan sangat menentukan apakah bisnis dapat dikatakan untung atau rugi.

Pada unit kecil seperti UKM yang dijalankan oleh perseorangan, dana awal yang diperlukan setidaknya kurang dari 50 juta saja. Berbeda dengan UMKM yang perlu menyiapkan dana hingga 300 juta sebagai modal untuk membangun usaha. Hal tersebut sebanding dengan keuntungan yang akan diperoleh mendatang, yang mana UMKM akan berpotensi menghasilkan untung yang lebih besar.

2. Jumlah Pekerja

Unsur yang menjadi perbedaan UKM dan UMKM terletak pada jumlah pekerja yang membantu dalam tahap pengembangan bisnis. Meski hanya didirikan untuk perseorangan, usaha akan lebih berkembang secara optimal bila terdapat pekerja atau karyawan. Akan lebih diutamakan bila para pekerja yang bergabung memiliki keahlian di bidang usaha tersebut.

Pada usaha skala kecil dan mikro, pebisnis hanya memerlukan pekerja tidak lebih dari 20 orang. Sebab, produksi yang akan dilakukan juga tidak terlalu banyak dan masih bisa diselesaikan hanya dengan beberapa orang. Sedangkan untuk usaha menengah setidaknya memerlukan pekerja puluhan hingga 99 orang agar dapat berjalan sesuai dengan target.

3. Jumlah Profit yang Dimiliki

Setiap badan usaha yang digerakkan tentu berharap memperoleh profit yang maksimal. Bahasa sehari-hari yang dikenal yaitu keuntungan, yang mana merupakan hasil dari omzet dikurangi dengan biaya produksi atau pengeluaran. Bila hasilnya menunjukkan positif, berarti usaha memperoleh laba dan begitu pun sebaliknya.

Pada badan usaha yang kecil dan mikro, profit yang mungkin dicapai tidak lebih dari Rp500 juta. Nominal tersebut tentu berbeda-beda tergantung dari bisnis yang dikembangkan. Sedangkan pada skala besar, ada kemungkinan memperoleh profit hingga Rp10 M ketika bisnis dijalankan dengan optimal.

4. Omset Usaha

Berbicara soal bisnis tentu tidak lepas dari pembahasan mengenai omset yang diperoleh. Perhitungan ini untuk memastikan besarnya pendapatan kotor yang diperoleh dari badan usaha yang dijalankan. Kebanyakan menerapkan sistem perhitungan tiap bulan dalam bentuk laporan tertulis.

Besarnya omset yang diterima akan berbeda, mengingat antara UKM dan UMKM didasari dengan modal yang tidak senilai. Omset yang diterima pada usaha kecil cenderung tidak begitu banyak, maksimal hingga Rp2,5 M per bulan. Sebaliknya, usaha menengah yang dijalankan dengan baik kemungkinan besar mampu mencapai omset hingga Rp50 M.

5. Pihak Pembina

Setiap badan usaha tentu memiliki pihak pembina masing-masing berdasarkan besar kecilnya bisnis yang dikembangkan. Usaha yang lebih besar akan dibina pada tingkat nasional, sebab ini juga akan berpengaruh pada perkembangan ekonomi di Indonesia. Sedangkan untuk usaha kecil dibina pada tingkat provinsi dan tingkat kabupaten untuk pembinaan usaha mikro.

Demikianlah penjelasan mengenai 5 perbedaan UKM dan UMKM untuk dipahami sebelum menjalankan bisnis. Apa pun jenis usaha yang sedang dikerjakan, pastikan selalu membuat laporan keuangan dengan baik. Pebisnis juga dapat memanfaatkan aplikasi untuk mengatur masalah finansial. Detail ini sangat diperlukan guna mengembangkan bisnis menjadi lebih besar dan dikenal banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *